SELAMAT DATANG DI WEBSITE TAMATAN KHUSNUL KHOTIMAH 2012 KELAS IDADIYAH 2 LOKAL A

Kamis, 26 Juli 2012

Jangan Putus Asa

Hargai Proses Hidup
Sebagai seorang muslim, kita tentu tidak selayaknya memiliki sifat putts asa terhadap rahmat Allah swt. Artinya, dalam menghadapi kehidupan ini, kita tidak mungkin lepas dari berbagai masalah. Dalam setiap masalah itu, pasti ada jalan keluar yang harus kita tempuh jika kita benar-benar ingin lepas dari masalah yang sedang membelit. Nah, dalam usaha melepaskan diri itulah sering kali kita putus asa. Mengapa? Karena sering kali penyelesaian masalah itu demikian rumit, kompleks, berbelit-belit, dan berliku-liku. Maka, tentu saja kita dituntut sabar menempuh proses dan prosedur penyelesaiannya satu per satu dan tahap demi tahap.
Misalnya, kita ingin menjadi penulis yang profesional. Tentu, prosedur utama yang harus kita tempuh adalah memelajari ilmunya, baik dengan kuliah atau ikut kursus-kursus singkat di bidang tulis-menulis. Untuk proses ini saja, kita butuh waktu antara 3 bulan hingga 4 tahun. Cukup lama, bukan? Tapi, itulah yang harus kita tempuh lebih dahulu agar kita memiliki pondasi ketrampilan dalam dunia tulis-menulis. Proses ini saja sudah menuntut kita sabar, tekun, dan pantang menyerah dalam menghadapi segala tugas yang diberikan selama menuntut ilmunya.
Tahap berikutnya, kita harus mau mencoba memraktekkan ilmu tulis-menulis tadi. Ini makin membutuhkan kedisiplinan diri. Tiap hari, kita dituntut untuk menuangkan ide-ide yang masih tersimpan acak-acakan dalam otak dan hati ke dalam lembaran kertas kalau itu kita tulis atau dalam layar monitor kalau kita menuangkannya dengan bantuan alat komputer. Dalam tahap ini pun, kita juga harus mau jatuh bangun. Kadang baru mulai, pikiran sudah buntu melanjutkan kata-kata berikutnya. Akibatnya, tangan berhenti menari-nari di tuts keyboard komputer. Otak pun rasanya stres menahan beban ketidakberdayaan diri ketika menghadapi hambatan awal dalam menulis. Tambah berat, bukan? Tapi, ini harus kita hadapi kalau memang kita mau menjadi penulis yang benar-benar profesional.
Kalau itu sudah, kita dituntut melangkah tahap lanjutannya, yaitu kita kirimkan tulisan itu ke media-media massa. Di sini, tantangan-tantangan yang menghadang juga kian berat. Kita harus bersaing dengan penulis lain yang jumlahnya ratusan, ribuan, bahkan jutaan, yang tersebar di seluruh Nusantara maupun dunia. Tidak jarang kita akan menghadapi berbagai kendala. Misalnya, tulisan kita ditolak sejak dari pengiriman pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Kita pun pasti stres, bahkan tidak percaya diri, manakala menghadapi masalah seperti ini. Tapi, sekali lagi kita tidak perlu putus asa atas kegagalan-kegagalan itu. Bahkan, kita harus bangkit untuk menulis dengan lebih baik lagi. Bukankah ada pepatah, “Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda”? Kita harus yakin itu agar rasa putus asa tidak menjangkit dalam jiwa kita.
Dalam hal ini, ada baiknya kita mencontoh pengalaman yang pernah dialami seorang penulis terkenal di mancanegara. Ceritanya, dia sejak usia belasan telah rajin dan istiqamah mengirimkan naskah-naskahnya ke sebuah koran. Itu dilakukannya hingga tamat kuliah. Tapi, selama itu pula, tak satu pun tulisannya yang pernah dimuat. Padahal, dia sudah membuat artikel yang berbeda sebanyak 1.499! Sekali lagi, seribu empat ratus sembilan puluh sembilan! Itu bukan jumlah yang tidak sedikit, bukan?! Tapi, dia menghadapinya dengan penuh kesabaran. Buktinya, semua tulisannya dari yang pertama hingga yang terakhir itu tetap disimpannya dengan rapi. Dia pun tetap bertekad untuk menulis dan mengirimkan artikelnya untuk koran yang sama.
Akhirnya, artikelnya yang ke-1500 berhasil dimuat. Dia senang bukan kepalang! Kita bisa bayangkan, bagaimana suka citanya setelah berhasil pertama kali memuatkan artikelnya setelah pengiriman yang ke-1500 di surat kabar yang selama ini dia tekuni sejak usia anak SMP. Karena tulisannya yang ke-1500 itu sangat fenomenal, baik bagi penulisnya maupun masyarakat luas, dia banyak mendapat tawaran dari koran lain untuk mengirimkan artikel-artikelnya. Menanggapi tawaran itu, dia pun tambah semangat dan langsung membuka-buka arsip naskah-naskah yang pernah ditolak. Satu per satu dia edit, kemudian dikirimkan ke berbagai koran yang memintanya. Walhasil, ke-1499 artikel-tertolak yang pernah dibuatnya itu laris manis dimuat di koran-koran terkemuka di negaranya. Tentu saja, dia akhirnya menjadi orang yang kaya raya berkat tulisannya. Enak to? Mantep to? (Pinjam syair lagunya Mbah Surip almarhum)
Nah, kita bisa memetik pelajaran dari ketekunan, keuletan, kerajinan, dan istiqamah penulis tadi. Jangan kita hanya terpukau pada hasil akhir yang berhasil dia raih, tapi pelajari dan lacak dengan saksama proses-proses menuju kesuksesan yang telah dilalui. Kita memang sering kali terjebak hanya melihat dan mengagumi keberhasilan seseorang setelah di puncak, tapi anehnya kita malah melupakan proses hidup yang harus dilaluinya sebelum sampai posisi top. Maka, kita mulai saat ini harus mengubah kebiasaan itu. Kita teladani kesuksesan seseorang serta memelajari secara cermat berbagai proses menuju keberhasilan itu.
Dengan menghargai proses kesuksesan, akhirnya terkuak sebuah pelajaran yang amat berharga. Apa itu? Itu tidak lain adalah tidak adanya rasa putus asa dalam hati para peraih sukses tersebut. Dengan perkataan lain, kalau seseorang sudah putus asa ketika berada di tengah proses menuju sukses, maka yang akan ditemuinya adalah kegagalan selamanya. Mengapa begitu? Karena hatinya telah berkata bahwa dirinya telah gagal, menyerah, dan tak mau bangkit lagi menuju sukses. Apa kita mau seperti itu? Pasti tidak, bukan?
Jadi, tidak ada rumus putus asa untuk meraih sukses. Maka, mulai sekarang juga, katakanlah dengan lantang dan penuh tekad membara pada diri kita masing-masing, “Hari gini masih putus asa? Sudah nggak zaman, ah!”

0 komentar:

Posting Komentar